Gambar Desain Sepatu Cewek buatan Istri

Gambar Desain Sepatu Pria buatan Luqman Wibowo

God, konsisten untuk menulis itu tidak main – main. Setidaknya ada beberapa usulan dari dunia ghaib yang di tampung dalam bejana milik Mbah Google. Pertama, rajin membaca buku, novel atau artikel yang pada akhirnya kita bisa menemukan sudut pandang baru, memunculkan ide untuk menulis atau sekedar melakukan ulasan ulang ide pada buku, novel atau artikel yang kita baca.

Kedua, menonton Film. Disanalah pertukaran ide penulis, penggambaran setiap ide melalui adegan oleh penulis naskah, sutradara, cinematografer, dan para kru film lainnya. Berkat nonton film, tercetuslah ide untuk mengulas hal yang paling penting dari ide dan gagasan pokok pada film, mencari nilai atau tafsiran padanan soal ide dalam film atau mengulas dan menguliti isi film itu sendiri.

Ketiga, jalan-jalan. Pada poin ini mari kita sederhanakan pada jalan-jalan atau berkeliling ke lingkungan baru. Bisa dengan mengunjungi kontrakan teman, berkunjung ke saudara kita, atau ke tempat wisata baru. Dari sana, otak akan bekerja otomatis untuk menangkap realitas dunia kita yang begitu dinamis. Melabrak kesuntukkan dan rutinitas harian.

Keempat, tulislah sebuah kata di buku catatanmu. Kalau tidak di kolom ‘apa yang sedang anda pikirkan..’ di sebuah platform media sosial nomor satu di dunia. Itu adalah awalan yang baik ketika kamu mencoba mencari ide. Kalau perlu tulislah hal yang nyeleneh, lalu lihatlah komentar – komentar dari teman-temanmu. Disanalah kamu akan menemukan ide, apa yang harus kamu tulis.

Membaca itu Tantangan
Yups, menulis itu tantangan. Bahkan membaca adalah tantangan. Tahukah anda, sebuah survey literasi telah dilakukan dan hasilnya telah diumumkan tahun 2016 lalu oleh  CentralConnecticut State University di New Britain. Hasilnya, Indonesia berada pada urutan 60 dari 61 negara yang di survey. Survey ini dilakukan menggunakan variable mulai dari ukuran perpustakaan, jumlah pengunjung, kebiasaan membaca surat kabar dan lain-lain.

Banyak para tokoh berkomentar ria soal hasil ini. Ada pro dan tentu saja ada kontra. Tapi yang perlu digaris bawahi pada bagian ini adalah pernyataan Presiden CCSU bahwa jenis perilaku melek huruf ini sangat penting bagi keberhasilan individu dan bangsa di ekonomi berbasis pengetahuan yang menentukan masa depan global kita. Dan itu nyata brotha, sistaaa.... Para pembaca buku mendapatkan peluang sebesar 60%-80% untuk menulis dan 60%-80% mendukung di jenis pekerjaan yang mereka pilih.

Melihat data dan pernyataan sang Presiden diatas, saya berfikir ulang untuk meninggalkan kebiasaan membaca buku. Maka saya paksakan kembali mengambil buku yang senyatanya saya beli murah meriah dari toko buku bekas di samping rumah sakit Harapan Kita 2 tahun yang lalu. Walhasil, setelah berikrar subuh kemarin (red: Kamis, 24/10/2019) saya berniat membaca buku sebelum weekend dimulai hari kamis pagi. Tentu saja dengan harapan saya bisa membuat resensi atau ulasan buku dan melakukan uploadnya pada Jum’at malam.

Thrusday is the day to read my book. Menjawab tantangan menulis adalah dengan membaca buku setiap hari Kamis

Itu tidaklah sia-sia kawan. Hari kamis kemarin hingga Jum’at sore saya berhasil membaca satu buku penuh sobekan catatan berjudu 4G Marketing a 90 Year Journey of Creating Everlasting Brands. Buku ini adalah sejarah perjalanan PT. HM Sampoerna melewati tiga zaman dan hari ini telah mencapai empat generasi kepemimpinannya. Dari buku itulah tumbuh api baru dalam kesuntukan dan kejumudan rasa nyaman saya. Untuk resensi buku tersebut, anda bisa membacanya di halaman resensi blog ini. Hingga saya menuliskannya di sebuah kertas A4 dengan Spidol berwarna : 'Thursday is The Day to Read my Book'.

Di akhir kata, saya anjurkan kepada kawan-kawan sekalian untuk merelakan anggaran belanja tembakau, atau menambah penghasilan untuk membeli buku. Buku soal pekerjaan anda, buku soal manajemen keuangan keluarga, buku soal mendidik anak, novel ataupun surat kabar. Karena dari sanalah anda mendapatkan pengetahuan baru, sudut pandang baru, lalu anda bisa berinovasi. Menulis dengan gaya baru, mengetik dengan cara cepat, menggunakan format keuangan baru yang fleksibel atau memenuhi blog anda dengan cerita. Itu tidak akan merugikan anda.   







Resensi Buku Keren Jurnalisme Sastrawi adalah Buku Jurnalistik Keren



Judul                         : Jurnalisme Sastrawi
Penulis                      : Agus Sopian. Alfian Hamzah, Andreas Harsono, Budi Setiyono, Chak Rini, Coen Husain Pontoh, Eriyanto, Linda Christanty
Penerbit                    : Yayasan Pantau
Tahun Terbit            : Oktober, 2005
Cetakan                    : Pertama
Jumlah Halaman       : 352
ISSBN                      : 979-97945-1-X

Hal apa yang akan terjadi jika seseorang atau warga ditanya tentang sebuah peristiwa yang membekas dan menyebabkan trauma karena kehilangan? Fase pertama, mereka bercerita dan berharap ada keadilan datang secepat jurnalis mengabarkan derita mereka. Fase kedua mereka bercerita sambil berdo’a keadilan akan datang sekalipun terlambat. Fase ketiga mereka mengulang cerita dan menitikkan air mata karena keadilan dan kebenaran tak kunjung datang. Fase keempat, “percuma kami bercerita. Toh kebenaran tidak membawa keluarga kami kembali”.

Pada fase keempat itulah Chik Rini menukik dan mendalami peristiwa di Simpang Kraft tahun 1999. Simpang Kraft adalah sebuah tempat dimana tragedi sekelompok orang berseragam loreng memberondong para demonstran yang tak lain adalah warga Aceh. Chik Rini menuliskan peristiwa ini dengan menelusuri laporan jurnalis RCTI dan Antara sebagai pengabar berita sekaligus saksi kejadian. Lalu ia mencari saksi dan korban dengan menapaki daerah Simpang Kraft.

Sungguh tidaklah mudah menggali informasi dari para saksi dan korban di fase keempat. Namun Rini berhasil menyelam dibawah tekanan arus trauma dan ketidakpercayaan para korban. Rini membawa permata menjadi karya keatas permukaan samudera jurnalisme. Ia memberi judul “Sebuah Kegilaan di Simpang Kraft” atas hasil liputannya. Saya merasa berada disana, menangis.

Rini membutuhkan waktu 5 bulan untuk menyusun laporan super dalam ini. Begitu juga penulis lain cukup memakan waktu dalam menyusun narasi. Hal ini dijelaskan dalam pengantar buku ini dimana genre ‘Jurnalisme Sastrawi’ merupakan hasil laporan mendetail dan menyeluruh, disusun per-adegan, serta menggunakan sudut pandang orang ketiga. Riset dan verifikasi atas informasi benar-benar dilakukan dengan teliti, sehingga akurasi laporannya bisa seratus persen dipercaya. 

Buat saya yang baru saja menjerumuskan diri di dunia jurnalistik, buku Jurnalisme Sastrawi ini cukup Keren. Pada pengantarnya memberikan petunjuk yang cukup jelas soal genre jurnalisme yang jarang digunakan di negara ini. Sebagaimana judulnya “Antologi Liputan Mendalam dan Memikat” para penyusun buku Jurnalisme Sastrawi ini menyajikan komposisi yang pas melalui delapan hasil liputan.

Resensi Buku Keren Jurnalisme Sastrawi setelah Luqman Wibowo membaca Buku Jurnalistik Keren Jurnalisme SastrawiPertama kita dibawa belajar menyusuri setiap saksi dan informasi, lalu merasakan berada disana saat itu. Kedua, menggali latar belakang dibalik pelaku ledakan bom Bali dan Natal. Ketiga, melihat seorang pemulung biasa yang dibakar, tapi membuka mata dunia jurnalisme yang bermata dua. Keempat, soal pesan dan amanat tidak langsung Coen Husain Pontoh, jika ingin mendirikan perusahaan pers, belajarlah kepada Tempo. Kelima, semacam Behind in Scene tentara yang bertugas di Aceh. Keenam, hal cukup mengerikan dan kenyataan. Inilah dunia seribu wajah. Ketujuh, Koes Bersaudara bermain musik demi sebuah misi yang tak terungkapkan. Kedelapan, sekali lagi untuk para pemimpi di dunia jurnalis, belajarlah pada The New Yorker.

Akhir kata, sekalipun diakui sendiri oleh para editor dan penyusunnya bahwa karya ini adalah coba-coba dan masih jauh jika disandingkan dengan pendahulunya terutama John Hersey lewat ‘Hiroshima’ ataupun Truman Capote dengan ‘In Cold Blood‘. Tetapi buku jurnalistik keren ini sangat sangat layak dan mendapatkan tempat di hati para jurnalis. Saya sendiri seorang pemula merasa disentil, “Mau jadi jurnalis macam apa nanti?”.







Adegan Film The Pirates of Somalia ketika Jay berhasil bertemu salah seorang Perompak




Directed by
Produced by
Claude Dal Farra
Irfaan Fredericks
Mino Jarjoura
Matt Lefebvre


Screenplay by
Bryan Buckley
Starring
Barkhad AbdiMelanie GriffithAl Pacino

Music by
Andrew Feltenstein
John Nau

Cinematography
Scott Henriksen
Edited by
Production
company

Hungry Man Productions
BCDF Pictures
Kalahari Pictures


Distributed by
Release date
·         April 27, 2017 (Tribeca Film Festival)
·         December 8, 2017 (United States)
Running time
118 minutes[1]
Country
United States
Language
English



Jay Bahadur adalah seorang jurnalis pemula. Ia berniat menjadi jurnalis professional dan lulus sebagai sarjana jurnalis di Universitas Harvard. Motivasinya menjadi jurnalis diperlihatkan di awal film ketika Jay sedang mengumpulkan data dan tentang tempat menyimpan / meletakkan tisu di minimarket dan rumah warga. Ia berharap mendapatkan pola tertentu dan menerbitkannya dalam sebuah jurnal.

Suatu hari dengan tidak sengaja Jay bertemu seorang pensiunan jurnalis idolanya di sebuah klinik. Dia adalah Seymour Tolbin. seorang veteran jurnalis dari The Daily Mail. Disanalah ia mendapatkan lecutan dan hasutan yang membawanya menjadi seorang Jurnalis di kemudian hari.

“Kau ingin menjadi Jurnalis hebat? Pergilah ke tempat yang gila!” Tegas Seymour.
Maka, dimulailah usaha Jay untuk bisa pergi ke tempat yang gila. Somalia.


Seberapa gilanya Somalia? Bahkan tidak ada jurnalis dari pers manapun yang berniat untuk masuk ke Somalia. Keadaan carut marut akibat perang antar kelompok, warga sipil yang bebas memegang senjata menggambarkan keadaan yang super gila mengancam nyawa. Bajak laut Somalia menjadi subjek antagonis superior bagi media dan warga dunia.

Adegan Film The Pirates of Somalia ketika Jay berhasil melakukan wawancara dengan Garaard seorang prompak somalia

Film semi dokumenter ini berpusat pada Jay Bahadur yang nekat mendarat ke Somalia. Dengan pinjaman dari Orang Tuanya, ia berhasil mendapat restu dan tawaran bantuan dari sebuah stasiun radio Garowe Somalia. yang menawarkan bantuan penerjemah sekaligus asuransi keamanan selama Jay di Somalia. Film ini dilengkapi dengan adanya humor dan karakter orang-orang Somalia serta sisi gelap warganya yang banyak mencandu Daun Khat. Selama 6 bulan tinggal di Somalia, Jay berhasil mewawancarai Boyah pimpinan salah satu kelompok pembajak di kota Eyl. Ia juga berhasil mewawancari Garaard yang memimpin semua kelompok pembajak bersenjata di Somalia.


Adegan Film The Pirates of Somalia ketika Jay merasakan kebuntuan

Dalam film ini, melalui adegan wawancara Jay dengan Garaard, Somalia memberikan kabar bahwa mereka hanya mengambil apa yang seharusnya di dapatkan oleh mereka. Ikan-ikan mereka di pancing tanpa izin. Kapal-kapal kargo dan tanker melewati perairan Somalia tanpa melapor. Mereka akan terus ada selama pemancing illegal masih ada di perairan Somalia. 


Film ini sangat – sangat layak bagi siapapun terutama seseorang yang berniat menjerumuskan diri ke Dunia Jurnalistik. Namun, jika benar akan menjalankan cara seperti itu dibutuhkan pikiran yang jernih dan menimbang-nimbang juga, Agar tidak salah pilih tempat dan benar-benar tidak terkendali. Kenyataannya, selain tantangan menemukan narasumber, mencari sudut pandang yang pas untuk pemberitaan, dibutuhkan pula keuletan dan kesabaran. Karena jauh dari rumah dan berada di area konflik cukup menguras tenaga, materil dan pikiran bukan?



Resensi Film Keren kali ini saya menyuguhkan Recount karya

Judul                      : SANG ALKEMIS
Penulis                  : Paulo Coelho
Cetakan                 : ke 24
Tahun Terbit        : April 2019
Jumlah Halaman   : 216 hlm ; 20 cm
Penerbit                : PT Gramedia Pustaka Umum
ISSBN                    : 978-602-03-235-3

Dalam karya aslinya, novel Sang Alkemis bercerita tentang pencarian asensi hidup dan kehidupan ini terbit tahun 1988 di Spanyol. Melalui novel ini, Paulo Coelho sang penulis mengajak pembacanya berkelana di dunia spiritual tanpa meninggalkan dunia dimana kita berada.

Cerita ini bermula dari seorang anak yang bernama Santiago untuk memutuskan menjadi gembala ketimbang mewujudkan harapan ayahnya untuk menjadi pastor. Ia ingin berkelana, menjumpai hal-hal baru dan melihat kastil-kastil di berbagai negeri. Setelah terjadi percapakan anak dan ayah, maka ayah santiago pun merelakan keinginan anaknya dan memberikan sekantong uang untuk membeli domba.

Sekalipun menjadi gembala dan lebih banyak bercakap-cakap dengan dombanya, Santiago tetaplah belajar. Ia membeli dan menukar buku dengan yang baru setelah ia menjual bulu – bulu dombanya. Hingga pada suatu malam, juga malam-malam selanjutnya datanglah mimpi yang sama, perjalanannya menuju Piramida. Mimpinya tentang piramida datang dan meninggalkan jejak di hatinya. Ia penasaran dan mencari seorang peramal. Maka dimulailah perjalanan spiritual santiago.

Dalam novel fiksi ini, Penulis melalui tokoh utama ‘santigo’ menjadi pembimbing kita macam apa dan bagaimana sebenarnya makna sebuah perjalanan. Santiago mendapat kekuatan ketika ia bertemu orang tua dan melakukan percakapan aneh baginya.

“Takdir adalah apa yang selalu ingin kau capai. Semua orang, ketika masih muda, tahu takdir mereka.”

“Pada titik kehidupan itu, segalanya jelas, segalanya mungkin....”. (hlm, 32)

Setelah membaca novel ini, saya sendiri merasa malu. Bukankah Santiago harus melakukan perjalanan panjang hingga ia menemukan harta karunnya? Toh, Santiago kadang bergelut juga dengan keputusasaan, kehilangan dan halangan-halangan lain?
Buku ini sangat layak dibaca. Pembaca akan menemukan kalimat indah nan penuh daya, yang tidak bisa ditukar nilainya dengan hanya membaca resensinya. Jika Novel ’Narcissus dan Goldmund’ karya Herman Hesse terlalu berat bagi pembaca pemula. Maka novel ini bisa jadi alternatif. 


by on Selasa, Agustus 20, 2019
Judul                      : SANG ALKEMIS Penulis                  : Paulo Coelho Cetakan                 : ke 24 Tahun Terbit    ...
Pada suatu ketika saat matahari sedang terik di pertengahan tahun 2006. Dua mahasiswa kabur dari kelas nya langsung meluncur ke rumah kontrakannya. Tidak lupa membeli sekantong plastik es teh dan membawanya utuh sampai kamar kos-kosan. Seperti biasa dan pada umumnya manusia yang keringatan, kami melipat celana panjang dan membuka kemeja begitu sampai kedalam kamar. membuka jendela lebar-lebar, menekan tombol power kipas angin, lalu memaksa sebauh tape kaset memutar kaset Jikustik. Pada saat itu gw lupa, kenapa itu tape dan pita kaset masih dipake. Padahal jaman jadi anak kos di SMA taun 2004, gw dah belajar muter lagu pake CD Player Made in China. Lha kok, naek status jadi mahasiswa gw dapet temen yang masih pake tape recorder..???

Sambil dengar Jikustik yang seloww, gw nyeruput es teh pake sedotan. Langsung di kantong plastik karena kita gak mau cuci gelas. Nah, teman gw yang namanya M Ulum dan biasa gw panggil Husen mulai corat-coret di secarik note book tebel. Yah, hampir kayak juragan pabrik gilingan padi, dahinya mengekerut bikin sebuah daftar. Lalu dengan serius dia bercerita soal keadaan keluarganya, soal bagaimana ia bisa sampai di kota Satria, juga soal kemungkinan hari esok dia mau jadi apa. Inti dari ingatan gw soal siang itu adalah si Ulum jadi dosen dengan mahasiswa nya yang cuma sebiji, kasih kuliah di kamar kos.

"Hai Jong. Lu tau Gak. Kakak gw, Bapak Gw, itu bilang. Bahwa ternyata "Hidup itu adalah Rencana". Jadi, mulai dari sekarang, kita harus punya rencana. Rencana Hidup...!!!"

Buset, padahal siang itu gw ninggalin kuliah 2 SKS soal mahluk hidup. Tapi gw dapet kuliah soal manajemen dari teman gw yang sedang bolos kuliah bareng gw. Tapi gw sepakat. Bahkan gw kuliah di Kaki Gunung Slamet juga jelas demi cita-cita gw. Dikamar itulah gw tahu, gw punya temen yang aktifitasnya sudah ada dalam teks, dan ia sedang menjalani nya berdasarkan panduan yang telah ia buat sendiri.

Sekalipun gw sepakat soal perencanaan, siang sampe sore itu gw bertanya-tanya soal menuliskan apa saja yang ingin kita lakukan. Mungkin karena gw malas nulis. Juga, gw lebih asik menjalani hari untuk menemukan hal-hal baru. Terutama yang tidak terencana. 

Di kemudian hari, Lima tahun belakangan akhirnya gw benar-benar hidup dan menjalani kehidupan dengan seadanya. Gw asik asik aja sekalipun sampe pindah kampus. Balik Kampung...! dan gw sadari setahun kemarin, ada beberapa pola yang gak berubah. menemukan problem, bahkan sebenarnya gw sudah pernah lewat dipoint itu. Waw, akhirnya gw harus menuliskan Rencana gw minimal 1 tahun kedepan agar gw gak balik ke soal yang sama.

Caranya
Akhirnya gw ke warnet si Bos Jarjit Sigh di depan gang rumah gw. Tanpa malu-malu gw bukak tab sebanyak-banyaknya soal cara membuat rencana, resolusi, dan manajemen..?! Gw kuliah lagi malam ini, 2 SKS sama si Google penjaga perpustakaan dunia. Selama 45 menit gw baca semua tab, maka ternyata bisa gw simpulkan cara kita buat rencana.

1. Dalam Keadaan Sadar
Gw pikir ini wajib dan hukum alam pertama. ketika buat sesuatu, dan yang paling awal adalah rencana tentu harus dalam keadaan sadar. Sadar berarti sedang tidak gila, tidur atau setengah tidur. Kita harus sadar dan waras sejak dalam pikiran. Patokan sadar ya tentu saja, saat kau bisa melihat telunjuk sewaktu di tempatkan 5 cm di depan kedua mata kita. Itu kata buku 5cm, alias fokus. 

Nah, Sadar ini menurut gw agar kita benar-benar tahu tujuan, cita-cita dan hal-hal yang ingin kita capai. Pada point ini, semangatlah dan pikirkan secara rasional tujuan, target kita dalam hidup. Tujuan ini baiknya kita tulis dan betul-betul secara rasional bisa dicapai. INGAT...  Jangan Tuliskan Bisa terbang ke Atap rumah sebagai tujuan dan target. Karena itu mustahil dan gak mungkin dicapai.

2. Dalam Keadaan SMART
SMART itu singkatan dari : Spesifik (Specific), Terukur (Measurable), Dapat Dilakukan (Assignable), Realistis (Realistic), dan Terikat Waktu (Time Bound). Dalam hal ini, secara teknis dalam membuat rencana memang harus Spesifik. Kenapa? Karena kalo umum atau general, memiliki makna yang luas jugak. Dan kita akan kesulitan sendiri untuk mencapainya. Terukur itu maksudnya memang bisa dinilai. Kita dapat mencari cara apa saja yang dibutuhkan untuk mewujudkan keinginan kita. Selain itu, kita juga dapat menilai sejauh mana usaha dan tingkat keberhasilan kita dalam mencapai cita-cita kita.

Dapat Dilakukan itu berarti karena kita memang mungkin dan bisa melakukannya. Seperti yang saya katakan diawal, angan Tuliskan Bisa terbang ke Atap rumah sebagai tujuan dan target. Karena itu mustahil dan gak mungkin dicapai. Realistis itu juga sudah jelas. Kita bisa saja menetapkan tujuan setinggi-tingginya tetapi tetap saja harus realistis. Kita tidak mungkin menetapkan memiliki Pesawat Terbang sebagai target padahal aktivitas dan usaha kita baru bisa membeli sepeda. 

Terikat Waktu ya artinya kita memang benar-benar menetapkan tujuan berdasarkan waktu, sehingga kita dapat melakukan sesuatu, berkaca dan evaluasi berdasarkan tenggat waktu yang ditetapkan.   

3. Dalam Keadaan Sehat

Point ini sebenarnya cuma buat ngingetin lu semua, Jagalah Kesehatan. Karena kesakitan itu mahal harganya. Dalam keadaan sehat, lu semua bisa leluasa melakukan apa pun.

Well, gw dah nulis dan coba buat contoh tabel resolusi gw di tahun 2019. Semoga Bisa Tercapai...

 


by on Minggu, Januari 06, 2019
Pada suatu ketika saat matahari sedang terik di pertengahan tahun 2006. Dua mahasiswa kabur dari kelas nya langsung meluncur ke rumah kon...
 
Saya agak - agak keki sebetulnya kalau bicara soal menulis. Kenapa?? Karena aslinya saya cuma suka ngutak-ngatik hal-hal baru. Jadilah saya tukang 'Ngoprek' atau 'Ngulik' dalam bahasa gaoool tapi belum karuan sampe tuntas. Hohohoho Bisa membongkar, berusaha keras memasang kembali, lalu tinggalkan kalau dah bosen. Makanya, jangan tanya "sudah menghasilkan apa Luqman Wibowo selama ini?"

Teman - teman dekat saya bisa jadi belum ngerti soal motif kelakuan saya macam ini. Tapi kalau soal inkonsisten dan suka mabur-maburan tanpa kabar, kayaknya mereka sudah paham. Melihat kelakuan saya macam itu, jadilah saya semacam teman yang tak perlu-perlu amat dibutuhkan.

Carita Jaman Baheula
Well, naluri untuk nyari tahu hal-hal baru sebenarnya tumbuh dari jaman saya kecil. Saya ingin tahu rasanya buah salak? saya nekat ngambil salak di kebun tetangga. Saya ingin tahu rasanya nungguin buah durian? saya ikut teman saya nungguin kebun durian milik tetangga. Saya ingin tahu rasanya bolos sekolah? saya bilang ke orang tua, bahwa saya mau membolos sekolah dan benar-benar tidak masuk sekolah. Ada banyak hal yang saya ingin tahu maka saya coba-coba dengan atau tanpa izin orang tua. Wow, masa remaja adalah masa paling indah yang gak bisa kita lupakan beberapa episodenya.

Bisa jadi normal saja bagi sebagian orang melakukan hal-hal jail sekalipun. Tapi sungguh, saya bukanlah berandal. Saya belum pernah dengan sengaja memukul orang, menantang berkelahi atau kegiatan negatif yang hubungannya langsung dengan fisik atau merugikan seseorang. Aktifitas saya selama remaja yang berhubungan langsung dengan orang lain adalah dengan aktif di organisasi. Jadi, saya belum pernah sekalipun merasakan rasanya dipukul atau memukul selain diatas matras.

Namun, setelah saya pikir-pikir ada beberapa potongan kebiasaan dan perilaku jaman baheula yang kemudian menjadikan saya seperti sekarang. Semisal, saya suka baca buku fiksi, saya suka penasaran dan mencoba - coba hal baru, atau saya suka berlomba.

Ayah saya adalah orang yang baik hatinya sehingga mau membayar tagihan majalah Legend Indonesia setiap hari kamis. Melalui majalah legenda inilah saya berkenalan dengan cerita bergambar diantaranya gajah yang belalainya bisa memanjang sekehendak hati dan temannya si kucing dua kaki. Selain itu, masih ada juga petualangan para penyihir bernama Oki dan Nirmala. Dan jangan lupa, si keluarga kelinci si mpu majalah bernama Bobo..!!! Selain itu, hal yang paling mempengaruhi buat saya untuk jalan-jalan berpetualang bertemu dengan orang baru adalah cerita Pak Janggut.



Selain berlangganan majalah Bobo, kurir media cetak seringkali menodong ayahku dengan media cetak Nasional, Seperti Kompas, Republika, atau lainnya. Melalui Koran inilah saya bisa mengintip Dunia. Koran-koran inilah yang mengenalkan saya soal adanya sebuah kompetisi sepakbola antar klub di Eropa, soal harga bahan pokok yang melambung tinggi, soal cerita sekaligus menerka rupa si tokoh, juga soal betapa pentingnya ijasah dan keahlian di dunia kerja. Isi koran berpindah ke kepala saya. 

Nah, apa yang saya baca ternyata memang cukup mempengaruhi pola pikir saya. Contohnya, ketika melihat buah durian yang bergelantungan di dahan-dahan yang tinggi, saya selalu memejamkan mendelik ke sekeliling mencari Bona si Belalai panjang. Atau ketika saya berhadapan dengan soal-soal pekerjaan rumah saya berharap Nirmala hadir untuk membantu saya. Bahkan yang lucu adalah ketika Ibu ku bilang bahwa pamanku akan datang bertemu, saya berharap ia berbadan gempal dan hobi makan macam Paman Gembul.

Waw, jika saya ingat masa itu, ternyata imajinasi saya benar-benar terpatok pada komik dan informasi dari Koran yang saya baca. Saya sungguh tidak menyangka bahwa sebegitu besar pengaruh dari bacaan-bacaan saya. Disinilah saya merasa yakin dan cukup relevan jika peribahasa "Kamu adalah apa yang kamu makan" memang berlaku khususnya untuk saya pribadi.

Nah, masalahnya adalah sekalipun keluarga kami berlangganan media cetak, kadang-kadang saya baca cerita loncat-loncat. Contohnya cerita Pak Janggut yang bersambung sampai beberapa edisi majalah, kadang saya baca cuma awal perjalanan cerita sampai tengah cerita tanpa tahu ujung ceritanya. Bahkan pernah juga baca setengah cerita, lalu kembali membaca majalah bobo edisi satu bulan kemudian. Jadi, tidak semua cerita bersambung saya baca secara utuh...!!!

Yaps... Sepertinya ini dibutuhkan penelitian yang lebih mendalam, apakah ada akibat tertentu gara-gara baca cerita yang melompat-lompat terhadap pola pikir dan perilaku kita sehari-hari? Lalu bukankah ketika saya meninggalkan dan melewatkan cerita adalah untuk cerita sebenarnya di kehidupan saya? Ouh, mengingat cerita jaman baheula membuat saya curiga dan skeptis soal saya sendiri.

Banyaknya usaha saya sebanding dengan jumlah dan desain blog yang bisa saya modifikasi. Sayangnya saya tidak pernah menjadi desainer blog profesional. Lalu saya mempelajari bagaimana cara menulis, itupun dari sepuluh tahoon yang laloo, saat saya duduk di sebuah perguruan tinggi. Saya pun pernah datang jauh-jauh ke kota jogja hanya untuk mengikuti pelatihan menulis jurnalistik. Sayangnya, saya belum pernah membuat tulisan, liputan atau semacamnya disebuah media jurnalistik manapun, juga bangku kuliah yang saya tinggalkan begitu saja.

Diakhir tahun ini saya semakin sadar, skeptisme dan rasa penasaran saya bisa jadi berdampak buruk buat saya sendiri. Saya tidak pernah / belum pernah menyelesaikan rasa penasaran menjadi hal-hal yang lebih konkret. Soal gagasan dan ide saya banyak terbuang menjadi hal-hal sepele. Blog saya mangkrak seperti rumah kosong.

Akhirnya, setelah membaca diri dan artikel karya orang lain saya tahu apa yang saya butuhkan...!!! Saya membutuhkan sebuah plan dengan target dan indikator yang lebih jelas dan rinci. Juga beberapa usaha yang konkret dan tertulis. Terdokumentasikan. Sehingga kita tahu, masih seberapa jauh kita berjalan. Bukankah kita akan mengakhiri petualangan dan secepatnya memberikan kabar, bahwa berdiri dipuncak untuk melihat sunrise adalah satu cek point menuju kembali pulang.



by on Senin, Desember 31, 2018
  Saya agak - agak keki sebetulnya kalau bicara soal menulis. Kenapa?? Karena aslinya saya cuma suka ngutak-ngatik hal-hal baru. Jadilah ...

Adegan Film The Long Walk to Freedom ketika Bangsa Xhosa memulai ritual lelaki suku menjadi dewasa “Putra-putra bangsa xhosa…

Berkas cahaya matahari masuk melewati sela-sela atap rumbia di satu rumah saat pemuda-pemuda suku Xhosa sedang bersiap-siap. Mereka saling membalut diri dengan tepung yang dilarutkan. Lalu dimulailah upacara tanda bagi para lelaki muda resmi di pintu kebebasannya.



Anak-anak berlari dengan bebas…

Tapi tugasnya sudah menanti,…

Mengucapkan selamat tinggal pada anak-anakmu…

Kau akan segera menjadi laki-laki dewasa…

Masa depanmu, keindahanmu,  kekuatanmu bukan hanya milikmu …

Jika kau sendiri  maka akan merasa kecil, kaummu sangat kuat.

Sekarang pergilah! 

Kau adalah laki-laki.

Pergilah sebagai laki-laki….”


Terlahir dengan nama Nelson Rolihlahla Mandela ia tumbuh besar seperti apa yang inginkan kedua orangtuanya. Hidup untuk membela yang lemah. Setelah lulus kuliah Hukum, ia kemudian mengabdikan diri dengan menjadi pengacara. Namun semakin lama semakin tergugahlah mandela untuk berjuang dengan cara lain, melalui jalur politik.

Perkenalan Mandela (Idris Elba) dengan orang-orang ANC (Partai Nasional Afrika) menjadi tangga mandela dikenal diseluruh dunia. Bersama ANC ia melakukan aksi turun ke jalan menentang politik apartheid yang berlaku di Afrika. Bersama Umkhonto we Sizwe organisasi sayap ANC, ia melakukan agitasi dan pembakaran seta pemboman tempat-tempat fital Negara dalam rangka menolak pemisahan ras.


Adegan Film The Long Walk to Freedom ketika Nelson Mandela Berorasi


Ia dan aktor utama dalam perlawanan terhadap pemerintah akhirnya di jatuhi hukuman 27 tahun di penjara. Sepeninggal Mandela karena di penjara, perjuangan ANC kemudian di pimpin oleh istrinya sendiri yang lebih mengandalkan kekerasan, hingga kedua pasangan itu seringkali bertolak belakang dalam melakukan perjuangannya.

Adegan Film The Long Walk to Freedom Ketika Nelson Mandela di adili karena dianggap memberontak terhadap politik Apheteid


Film berjudul The Long Walk to Freedom ini diangkat dari buku biografi Nelson Mandela dengan judul yang sama.

Trailer The Long Walk to Freedom


Produser                 : Anant Singh

Sutradara               : Justin Chadwick

Penulis Naskah      : William Nicholson

Aktor dan Aktris   : Idris Elba, Naomie Harris, Mark Elderkin, Carl Beukes, etc
Tahun Rilis       : 2013


Adegan Film The Longest Ride ketika Luke bersiap menunggangi Kuda Liar
Kesedihan Ira begitu mendalam, karena Ruth adalah sumber inspirasi bagi Ira untuk mengumpulkan lukisan-lukisan indah di rumahnya. Melalui surat-surat milik Ira yang dibacakan Sophia terbentuklah plot mundur sebuah cerita romantis antara Ira dan Ruth. Berkat surat-surat inilah cerita pada film ini berjalan paralel dengan tema yang sama.


 Seorang koboi penunggang Bull-Riding bernama Luke Collins (Scott Eastwood) berambisi menjadi nomor satu didunia sebagai pengendara banteng liar. Namun sayang terjadinya kecelakaan membuatnya cedera dan absen selama satu tahun.
Pada debutnya yang pertama sejak cedera, ia bertemu dengan seorang mahasiswi seni yang kebetulan menonton pertunjukkannya. Maka, dimulailah cerita romantis antara keduanya.


Hal yang menarik dalam film ini selain cerita seorang koboi yang mengejar ambisinya adalah bertemunya Luke dan Sophia dengan pria tua yang tengah mengalami kecelakaan. Pria tua bernama Ira Levinson (Alan Aida) sedang bersedih atas kematian istrinya dan menjadi dekat dengan Sophia berkat sekumpulan surat Ira yang diselamatkan Sophia. 


Cerita romantik keduanya hampir sama, tidak jauh-jauh dari jatuh cinta, mempertahankan hubungan, lalu melanjutkan kembali hubungan mereka. Awalnya, seorang koboi yang kaku seperti luke ternyata cukup sulit untuk mengerti dunia seni yang diselami Sophia, begitu juga Sophia yang akhirnya tahu resiko seorang penunggang banteng. Karena kesibukan di dunianya masing-masing, menjadikan keduanya sempat saling menjauh dan mengalami kesulitan dalam membangun hubungan keduanya.


Adegan Film The Longest Ride ketika Luke bersama Sophia di tepi danau

Hal yang mengejutkan kemudian terjadi, pada ending cerita dimana Luke kembali menunggang banteng yang telah membuatnya cedera. Meski trauma luke sempat menyerang, luke berhasil menaklukan Ranggo (si banteng) dan meraih tempat kedua sebagai penunggang terbaik. Saat itulah ia menyadari dan merasakan kekosongan sekalipun ia bisa menaklukkan rasa takutnya. Sophia tak lagi ada di bangku penonton.


Adegan Film The Longest Ride ketika Luke menunggangi Kuda Liar

Ujung cerita, berkat undangan Ira akhirnya mereka bisa bertemu kembali dan mendapat durian runtuh. Warisan Ira yang dilelang menjadi milik Luke setelah ia memenangkan lelang lukisan pertama yang berjudul Ruth. Berkat wasiat Ira akhirnya Luke dan Sophia kembali bersama dan membangun mimpi mereka. 


Adegan Film The Longest Ride ketika Luke berkuda bersama Sophia


Trailer The Longest Ride
 

Genre                      : Drama, Romantis
Sutradara             : George Tillman Jr
Produser               : Marty Bowen, Wyck Godfrey, Theresa Park, Nicholas Sparks
Penulis Naskah : Craig Bolotin
Pemain                   : Scott Eastwood, Brittany Robertson, Jack Huston, Alan Alda, etc
Tanggal Rilis Perdana : 10 April 2015 (AS)