Tampilkan postingan dengan label Resensi Film Keren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi Film Keren. Tampilkan semua postingan


Judul Film   : BLACKLIGHT

Sutradara   : Mark Williams

Penulis        : Nick May (Penulis Cerita), Brandon Reavis (Penulis Cerita), Mark Williams

Pemeran    : Liam Nelson, Aidan Quinn, Taylor John Smith, Amanda Block, Emmy Raver,  etc

Durasi         : 104 Menit

Tahun         : Februari 2022

Genre         : Action & Thriller

Produksi     :

Zero Gravity Management

Footloose Productions

Solution Entertainment Group (as The Solution Entertainment Group)

Sina Studios (in association with)

Fourstar Film Partners Production (in association with) (as Fourstar Films)

Elevate Production Finance (in association with)

Film Victoria

Lightstream Pictures Australia

Screen Australia

 Trailer Backlight (2022)

Plot

Film ini dimulai dengan adegan seorang orator yang sedang menyampaikan protes bersama sekumpulan warga di depan gedung putih. Lalu, terjadilah kecelakaan yang menimpa orator tersebut saat turun dari mobil yang ditumpanginya. Dia adalah seorang tokoh perempuan Sofia (Mel Jarnson) yang sedang popular dalam gerakan perempuan.

Orasi Sofia didepan Pengunjuk Rasa
Lalu scene berpindah pada Travis Block (Liam Nelson) yang sedang melakukan penyelamatan terhadap salah satu agen dari incaran warga yang marah dan mengancam nyawa si agensi.  

Dari dua Scene ini, penonton apalagi tukang nonton film bisa menduga-duga mau jadi kayak apa cerita di film ini…

Yups, ujicoba memulihkan situasi, dan berurusan dengan nyawa..

Cerita berlanjut dan perhatikan percakapan antara Travis Block dengan atasannya Gabriel Robinson (Aidan Quinn).

Gabriel : Kepala staf kePresidenan tak senang dengan cara kepolisian local dalam mengatasi pengunjuk rasa warga lokal.

Travis     : Tak menyadari FBI di dakwa. Dengan pengendalian massa di gedung putih.

Gabriel : Kau Tanya padaku? Semua politisi ini mengejar bayangan mereka sendiri.

           Jika mereka mau bertahan satu periode lagi. Mereka harus pintar dan memahami apa yang membuat mereka terpilih sejak awal. Ketakutan. Saat orang-orang takut akan pekerjaan, dompet atau hidup mereka, mereka mau Paman Sam melindungi mereka.

               Jadi, jika boneka yang benar secara politis ini mau membereskan pengunjuk rasa yang kasar, beri mereka ketakutan.

Gabriel dan Travis sedang mengobrol


Travis sang tokoh utama pada film ini merupakan seorang kakek yang memiliki anak perempuan single mom dan seorang cucu. Travis ditunjukkan sebagai seorang tokoh yang sedang berusaha memperbaiki hubungan dan nilainya di mata keluarganya. Dahulu ia begitu sibuk bekerja dan jauh dari keluarganya, sehingga dimasa tuanya ia ingin menjadi sosok lelaki yang baik dan dekat dengan keluarganya.

Ternyata Travis adalah agen bebas yang secara khusus bekerja untuk Gabriel diluar kedinasan atau tidak resmi. Travis yang merupakan teman seperjuangan Gabriel semasa perang dan membentuk ikatan simbiosis untuk menyelesaikan tugas atau pekerjaan yang tidak resmi. Disinilah kita belajar bagaimana orang-orang penegak hukum menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan aneh diluar penegakan hukum.

Dalam perjalanan ceritanya, Travis yang semakin dilema dan terpecah antara pekerjaan dan keluarganya menemukan titik balik perjalanan hidupnya. Ia bekerjasama dengan seorang jurnalis Washington News Cycle yaitu Mira Jones (Emmy Raver-Lampman) untuk mengungkapkan pekerjaan kotor Gabriel.

 

Opini

Banyak orang bilang film ini sebenarnya biasa saja terutama buat aktor kawakan Liam Nelson. Bahkan di IMDB film ini Cuma berada di rating 4,7 dari skala 10. Tetapi buat saya, film ini lumayan dan saya rekomendasikan sebagai film yang layak ditonton pecinta film action dan thriller. Alasannya, adalah karena interaksi dalam film ini sederhana dan cukup mudah kita pahami. Setiap intrik yang ada di film ini juga gak rumit. Bonusnya, saya dapat mengambil dua nilai yang dapat jadi pelajaran hidup.

Pertama. Jangan mencuri ide orang lain.

Kedua. Apa yang kita lihat belum bisa disebut fakta dan apa yang jelas bagimu belum tentu jelas bagi orang lain.

Saya merekomendasikan anda untuk menonton film ini secara utuh atau anda juga bisa menonton dan mendengarkan ulasan film ini disini.






 


 Resensi Film Aquaman (2018)

 

Film Aquaman 2019
Aquaman 2018

Produksi                 : DC & Warner Bros Entertainment, Inc

Tahun Terbit         : 2018

Sutradara               : James Wan

Penulis Skenario : David Leslie Johnson-McGoldrick dan Will Beall

Aktor                       : Amber Heard, Willem Dafoe, Patrick Wilson, Dolph Lundgren, Yahya Abdul-Mateen II, dan Nicole Kidman

Aquaman adalah film adaptasi dari Komik produksi DC Comics dan di distribusikan perusahaan WB. Bagaimanapun, Aquaman adalah bagian dari misi WB memunculkan superhero mereka ke layar lebar adalah misi besar untuk menyaingi Marvel yang meledak berkat hero-hero Marvel Universe!!! Jadi, Aquaman menjadi usaha ketiga WB untuk merebut hati pecinta film didunia.

Digarap James Wan film ini cukup ciamik dan unsur komedinya cukup menonjol di beberapa adegan. Tapi garing sih. Jadi, yah aquaman adalah film adaptasi tapi lain cerita dengan versi awalnya dikomik. Karena sudah banyak review soal film ini, teman-teman bisa baca atau tonton saja di chanel yutup. Yang ingin saya ulas disini adalah soal unik dan Value WB dalam film Aquaman. Yaps, sebagai film super hero, WB menyisipkan bagaimana cara negosiasi yang sederhana, simpel, dan lugas. Lalu humanity dan kritik Lingkungan.

1.    Negosiasi

 

Raja Orm mengundang Raja Nereus untuk berbincang. Misi Raja Orm adalah mengajak Raja Nereus untuk bersekutu dengan kerajaannya menyerang daratan. Maka, sebagai pihak pertama ia benar-benar telah mempersiapkan segala sesuatunya untuk mencapai tujuan tersebut. Pertama, ia memilih tempat yang disukai Raja Nereus. Kedua, ia memilih tempat yang mempunya nilai sejarah bagi kedua belah pihak. Ini dilakukan untuk mendapatkan rasa empati, simpati dan frekuensi yang sama. Sehingga memudahkan dalam memberikan pesannya. Ketiga, Raja Orm merendahkan hatinya. Ini untuk menunjukkan bahwa ia memiliki niat yang penuh nilai moral dan tanpa ambisi apapun. Yaah, walaupun nyatanya niatnya sudah terbaca oleh Raja Nereus dari Kerajaan Xebel. 

2.   Kritik Lingkungan

WB seringkali menyisipkan kritik sosial, alam atau nilai etika dan moral dalam setiap filmya. Jadi, tidak ketinggalan WB memberikan kritik banyaknya sampah hasil produksi manusia di bawah lautan. Huhuhu… ngeri juga kan kalo sampahnya balik ke daratan?

3. Humanity

Ini sih sifat bawaan dan alami mahluk Tuhan. Cuma yaaa nilai ini akan berubah dan dinamis pada setiap perkembangan individu. Nah, Aquaman yang pada dasarnya memiliki rasa humanity atau kemanusiaan yang tinggi, jadi bangkit dan bertambah rasa kemanusikan-nya. Eh.. penduduk Atlantis sih manusia, ikan atau manusia ikan? Ya intinya akhirnya ia mau menerima saran Mera dan Vulko untuk menyelamatkan Bumi dari peperangan. Sebagai manusia titisan bangsawan Atlantis, ia dipaksa untuk mengemban misi moral tersebut.

 

Yah, sebetulnya ada lagi sih yang unik yang disampaikan di film ini. Mungkin teman-teman bisa menambahkannya di kolom komentar.

Hmm, sebetulnya saya sih asik asik aja nonton film ini. Cuma, karena saya bukan penggemar komik amerika, jadi saya sedikit kelimpungan nyari alur cerita si manusia ikan …mmh.. manusia air…,..eh.. Aquaman.  Semisal premis pertama, ada seorang wanita melarikan diri dan terdampar di pantai. Kemudian ia di tolong oleh seorang penjaga mercusuar. Ternyata wanita tersebut tengah melarikan diri dari perjodohan antar keluarga kerajaan Atlantis. Ia sendiri adalah Atlanna sang putri pewaris tahta Atlantis.

Ketika mengenalkan diri dengan si penjaga mercusuar, ia sudah menyebutkan diri sebagai ‘Quenn Atlantis’. Artinya, posisinya sudah menjadi permaisuri Kerajaan Atlantis. Dikemudian hari, Atlana dan si Penjaga Mercusuar saling jatuh cinta dan menikah. Lahirlah si Arthur sang Aquaman. Karena pada akhirnya rumah si penjaga mercusuar sebagai tempat pelarian sang Ratu ketahuan. Pasukan Atlantis datang dan membuat sang ratu memilih pergi kembali ke Atlantis.

Nah, hayooo kira-kira sebelum pergi dan bertemu si penjaga mercusuar, apakah Atlana sudah menikah atau belum? Hmm, atau kabur pas di hari nikahan setelah ijab qobul?

Katanya, plot cerita film ini ternyata berbeda di beberapa bagian dibandingkan cerita aslinya di komik. Semisal Mera yang merupakan anak raja Neureus dari Kerajaan Xebel, dan merupakan tunangan dari adik tiri Arthur yaitu Raja Orm. Di komik, Mera adalah tunangannya Neureus, dan Neureus adalah musuh bebuyutan Arthur. Lalu Black Manta yang merupakan penjahat antar galaksi di komik, cuma jadi cangkang buat si perompak laut.

Mungkin dalam film Aquaman berikutnya, kita baru bisa memahami cerita utuh Aquaman versi baru ini., lur cerita yang bolak – balik di film Aquaman versi James Wan dkk membuat saya jadi ogah pindah tempat duduk apalagi angkat jemuran. Soalnya, teknologi CGI-nya itu wah banget. Atlantis jadi macam kota mewah, maju, dan penuh teknologi. Huhuhu… Meskipun banyak juga terumbu karang yang nempel di bangkai kapal menegaskan banyaknya sampah di dasar lautan.

Yaps, itulah cerita si Manusia Air yang menyelamatkan bumi dari peperangan antara penghuni laut dengan penghuni daratan. Seandainya ada tambahan, masukan dan lain sebagainya silahkan coment dibawah ya…  

by on Jumat, Maret 26, 2021
  Resensi Film Aquaman (2018)   Aquaman 2018 Produksi                 : DC & Warner Bros Entertainment, Inc Tahun Terbit          : ...


Penulis dan Sutradara : Wregas Bhanuteja
Produser                      : Nia Sari
Penata Sinematografi   : Leontius Tito
Penata Artistik              : Ferdi Perwiranata
Penata Musik               : Gardika Gigih
Penata Suara               : Firman Satyanegara
Editor                           : Mochamad Rizky Pratama
Pemain                         : Freddy Rotterdam Tatik Wardiono Den Baguse Ngarsa Agoes Kencrot Triyanto Hapsoro Titik Renggani

Jika kamu nanti benar-benar menonton film ini di YouTube, kamu akan menemukan informasi lain di deskripsi film ini. Dimana, cerita dalam film ini diangkat dari kisah nyata Wregas Bhatuneja yang tidak lain adalah penulis sekaligus sutradara film. Maka, tidak aneh jika film ini bisa menyampaikan detail adegan, properti dan suasana sepanjang alur film yang cukup detail.

Film ini dimulai ketika seorang ibu mengumpulkan 5 putra-putrinya untuk membagikan warisan peninggalan ayah mereka. Melalui pengundian, maka masing-masing satu anak berhak mendapatkan satu benda warisan yaitu lemari. Sesuai persyaratan ibunya, lemari warisan itupun harus langsung dibawa ke rumah masing-masing.

Setelah semua mendapatkan nomor undian, maka kita akan dibawa pada adegan dimana masing-masing orang mencari dan menemukan lemari yang telah diberi nomor. Disinilah kemudian kita akan mendapatkan gambaran karakter dari masing-masing anak si ibu. Ada yang selalu memegang Smartphonenya, ada yang menggunakan pakaian gaya klasik plus peci hitam, dan ada yang membawa kamera besar DSLR. Namun semuanya tampak akrab dan saling bercanda menampakkan betapa mereka rukun sebagai saudara.


Nah, cerita kemudian menukik pada tokoh Tri yang ternyata masih tinggal bersama ibu mereka di rumah itu. Dengan persyaratan yang diajukan ibu mereka, maka pertanyaan selanjutnya adalah kemanakah Tri membawa lemari warisannya?

Dipenghujung film, terdapat adegan yang cukup mengiris hati. Tetapi, setelah berfikir ulang, mungkin sebenarnya itu adalah pertanyaan yang diajukan film ini kepada penonton. Akan dibawa kemana warisan ibumu?
by on Kamis, Mei 07, 2020
Penulis dan Sutradara : Wregas Bhanuteja Produser                      : Nia Sari Penata Sinematografi   : Leontius Tito Penata Ar...


Produser  : Handoko Hendroyono, Anggia Kharisma
Sutradara : Angga Dwimas Sasongko
Skenario   : Jenny Yusuf
Penulis Naskah : Jenny Jusuf
Durasi : 117 menit
Tanggal rilis : 9 April 2015
Produksi : Visinema Pictures
Pemain :
Chico Jericho sebagai Ben
Rio Dewanto sebagai Jody
Julie Estelle sebagai El
Jajang C. Noer sebagai Bu Seno
Otiq Pakis sebagai Ayah Ben
Ronny P. Tjandra sebagai Pengusaha
Slamet R. Djarot sebagai Pak Seno

Mesin Expreso di KAfe Filosofi Kopi
Filosofi Kopi
Film ini membuka tirai panggung cerita dengan memperlihatkan 2 aktifitas paralel diseputar komoditas nusantara-biji kopi. Pertama aktifitas Jody yang menerima pesanan biji kopi dan Ben yang tengah sibuk meracik dan berdakwah soal kopi buatannya. Aktifitas lainnya adalah aktifitas petani yang memetik biji kopi, mengolah biji kopi secara tradisional dan meraciknya dengan cara sederhana.

Jody melihat Ben yang sedang meracik Kopi
Filosofi Kopi : Ben meracik kopi layaknya ilmuwan meracik bahan kimia

Opening film yang diiringi lagu Gede Robi dengan judul Kisah Secangkir Kopi ini sebetulnya merupakan kisi-kisi cerita. Dimana nantinya kedua cara meracik kopi akan saling berhadapan nanti. Ben yang notebene seorang barista penuh obsesi dan ambisi jika bicara soal kopi, akan berhadapan dengan Pak Seno seorang petani dan penjual kopi warung biasa di pedalaman.

Namun sebelum adegan itu datang, film hasil adaptasi cerpen karya Dee Lestari ini penuh makna terutama buat saya pribadi. Mengapa? Film Filosofi Kopi meracik persahabatan, cinta, perjuangan, masa lalu dan bisnis menjadi cerita siap saji. Jadi, menurut Luqman Wibowo untuk resensi film keren yang ini bisa teman-teman baca dan nontonlah film ini pelan - pelan! Karena sangat-sangat layak.

Persahabatan dalam cerita ini, ditunjukkan oleh dua tokoh utama dalam film ini. Ben (Chico Jericho) dan Jody (Rio Dewanto) yang telah tumbuh bersama jauh sebelum mereka dewasa. Itu karena Ben akhirnya diadopsi atau diurus oleh ayahnya Jody bagai anak sendiri. Sekalipun tumbuh bersama, keduanya memiliki watak dan karakter yang berbeda. Jika Ben tumbuh dengan rasa penasaran dan penuh obsesi tentang kopi, sementara Jody sebagai trah China membawa ciri dan karakter tajam soal bisnis dan rasa persahabatan disisi lain.

Melalui dua tokoh ini, setidaknya saya belajar 4 hal. Pertama, mereka membangun bisnis yang sebenarnya rentan bagi status persahabatan mereka. Apakah anda pernah mendengar pendapat liar bahwa "sebaiknya jangan bekerja atau berbisnis dengan sahabat dekat. Karena, bila bisnis gagal itu akan mengganggu persahabatan kalian." Nah, dalam film ini persahabatan mereka diuji.
Jody dan Ben selalu berkomitmen secara emosional untuk kafe Filosopi Kopi mereka
Filosofi Kopi : Jody dan Ben
Kedua, melalui tokoh Jody yang merupakan pebisnis, ia mengajarkan kita banyak hal soal negosiasi dalam berbisnis. Contohnya, ketika Jody mengajak Ben untuk segera kembali ke kedai agar kedai tetap buka pada jam makan siang. Ben dengan terang-terangan menolak dengan alasan itu merupakan jam istirahat. Ben membeberkan pengalamannya di Eropa bahwa kedai kopi tetap tutup di jam makan siang. Lalu Jody mengajukan fakta keadaan bisnis mereka dan memberikan opsi untuk memecat salah satu pegawai dengan alasan untuk menutupi biaya operasional mereka yang semakin mepet. Setelah bolak balik adu pendapat, akhirnya Ben menerima keputusan Jody agar kedai tetap buka pada jam makan siang.
Jody dan Ben bernegosiasi diatas motor
Filosofi Kopi Negosiasi jadwal buka diatas motor

Ketiga, melalui tokoh Ben kita melihat seorang tokoh anti kemapanan dan  pecinta tantangan. Dalam film ini Ben tanpa ngobrol dan kompromi dengan Jody, menaikkan angka taruhan dari penantangnya. Kejadian yang bermula dari tantangan seorang pengusaha kepada Ben untuk meracik kopi yang tiada duanya dan dianggap terbaik se-Ibu Kota. Jika berhasil, ia bisa memberikan uang sebesar 500 juta sebagai hadiahnya. Ben yang tertantang juga atas dorongan Jody yang sedang mentok hampir pailit karena hutang warisan ayahnya  akhirnya menerima tantangan pengusaha tersebut. Namun, tanpa disangka Jody, Ben dengan seenak hati menaikkan angka taruhannya menjadi 1 milyar. Jika Ben tidak berhasil, maka Ben dan Jody lah yang akan membayar uang sebesar 1 milyar kepada pengusaha itu.

Well, begitulah Ben. Ia adalah seorang anti kemapanan tetapi ambisius dan penuh hasrat jika berbicara kopi. Menanggapi ulah Ben secara sepihak, tentu saja Jody uring-uringan dan ngambek setengah mati kepada Ben. Harapan Jody mendorong Ben untuk menerima tantangan itu adalah demi menutupi utangnya. Sedangkan Ben untuk menunjukkan eksistensi dirinya bahwa dia adalah barista terbaik se Jakarta bahkan se-Indonesia.  Bagi Jody, Ben akan biasa saja dan tidak menderita kerugian apapun terutama uangnya jika kalah. Selain itu, jika mereka benar-benar kalah dalam taruhan, maka Jody akan rugi dua kali! Begitulah pikiran Jody.
Jody menonton Ben yang sedang meracik dan berusaha menemukan komposisi Bens Perfecto
Filosofi Kopi : Antusiasme Ben meracik kopi

Hal keempat, film Filosofi Kopi menyuguhkan egoisme dan arogansi yang mengekor dibalik orang-orang ambisius dan merasa menjadi yang terbaik. Hal ini ditunjukkan oleh Ben! Pasca deal soal nilai taruhan, Ben bagaikan seorang peneliti melakukan uji coba berbagai jenis kopi, cara mengolahnya, dan metode apapun untuk diracik. Hingga pada waktunya, ia berhasil menemukan racikan yang sesuai digambarkan si penantang.

Sejak menemukan komposisi yang diklaim ‘sempurna’ oleh para krew kedai Filosofi Kopi, Ben menjadi sumringah bahkan mendekati jumawa. Ben berada di atas angin dan berasa duduk di singgasana kerajaan kopi karena racikannya berhasil menarik banyak penggemar kopi. Hingga suatu waktu, datanglah El (Julie Estelle) seorang food bloger atau lebih tepatnya qu grader dan turut merasakan kopi racikan ‘sempurna’ dengan label ‘Ben’s Perfecto’. Lalu apa pendapatnya? Not Bad. Hanya not bad! Pukulan telak untuk Ben.
Jody, Ben, dan El menemui Barista Tradisional sang mpu Kopi TIwus
Filosofi Kopi : Ben ngotot ingin tahu proses meracik 'kopi Tiwus'

Dari 4 hal diatas yang diracik dalam cerita filsofi kopi sangat menarik dan nyatanya memicu pertumbuhan kedai – kedai kopi di Nusantara. Adapun sebagai karya adopsi dari cerita pendek dengan judul yang sama, tentu saja wajar jika terdapat penyesuaian yang lebih relevan. Semisal sang penantang tidak langsung serta merta mencari Ben melainkan memberikan traktiran pada semua pengunjung di suatu sore. Dalam cerita pendek karya Dee Lestari itu, sang penantang memprovokasi Ben melalui rasa kopi yang sesuai dengan setiap tagline atau Filosofi Kopi racikannya.

Ada pula tokoh pria penggemar kopi dan menganggap kopi adalah jamu yang hanya berkata ‘lumayan’ atas ‘Ben’s Perfecto’. Bisa jadi seorang pria paruh baya memang akan jadi biasa dan tak ada kesan mendalam bagi kita ketika menonton adegan ini. Sehingga dalam film, tokoh yang berbicara ini adalah seorang wanita dengan pangkat ‘qu garder’ dengan mengatakan ‘not bad’ untuk ‘Ben’s Perfecto’. Hasilnya? Silahkan teman-teman menontonnya lagi dengan seksama.

Selain itu jumlah uang yang dipertaruhkan juga berubah dari 50 juta dan naik menjadi 100 juta dalam cerita pendek. Sedangkan dalam filmnya berubah menjadi 500 juta pada taruhan pertama dan naik menjadi 1 milyar. Mengapa bisa naik? Karena relevansi nilai mata uang yang sudah beranjak naik. Nilai uang 50 juta dengan setting tahun 1996 akan sebanding dengan 500 juta untuk tahun 2014. Saking besarnya, saya sendiri menganggap angka itu tidak waras dan gila jika ada pertaruhan semacam itu hanya untuk racikan kopi.  

Melihat dua karakter tokoh dalam film ini sungguh membuat saya takjub. Keduanya benar-benar seperti hitam dan putih demi menjalankan roda nasib mereka. Begitu padu dan layak mendapatkan aplous. Adapun soal ekspresi Ben ketika bertemu pak Seno, banyak yang mengkritik terlalu berlebihan. Saya sendiri menangkap kecanggungan. Tetapi bukan karena Ben berlebihan menunjukkan sikapnya kepada Pak Seno, itu karena memang sulit. Disatu sisi obsesi Ben pada biji kopi, cara mengolahnya dan syarat makna dibungkus pengalaman pahitnya. Sementara disisi lain kopi racikannya dianggap lumayan dibanding ‘kopi Tiwus’ yang sekedar racikan tradisional karya Pak Seno.

Bagi yang belum nonton saya kira teman-teman tak perlu takut dianggap latah atau bahkan terlambat. Ini bukan saja soal falsafah hidup pada setiap racikan kopi, tetapi ini juga soal menangkap makna lain dari film ini sendiri. Entah itu motivasi bisnis, motivasi bertani atau menjadi rentenir sekalian. Yang jelas, benar kata Dee Lestari, “Hidup tak ada yang sempurna, hidup ini indah begini adanya”. 



Adegan Film The Pirates of Somalia ketika Jay berhasil bertemu salah seorang Perompak




Directed by
Produced by
Claude Dal Farra
Irfaan Fredericks
Mino Jarjoura
Matt Lefebvre


Screenplay by
Bryan Buckley
Starring
Barkhad AbdiMelanie GriffithAl Pacino

Music by
Andrew Feltenstein
John Nau

Cinematography
Scott Henriksen
Edited by
Production
company

Hungry Man Productions
BCDF Pictures
Kalahari Pictures


Distributed by
Release date
·         April 27, 2017 (Tribeca Film Festival)
·         December 8, 2017 (United States)
Running time
118 minutes[1]
Country
United States
Language
English



Jay Bahadur adalah seorang jurnalis pemula. Ia berniat menjadi jurnalis professional dan lulus sebagai sarjana jurnalis di Universitas Harvard. Motivasinya menjadi jurnalis diperlihatkan di awal film ketika Jay sedang mengumpulkan data dan tentang tempat menyimpan / meletakkan tisu di minimarket dan rumah warga. Ia berharap mendapatkan pola tertentu dan menerbitkannya dalam sebuah jurnal.

Suatu hari dengan tidak sengaja Jay bertemu seorang pensiunan jurnalis idolanya di sebuah klinik. Dia adalah Seymour Tolbin. seorang veteran jurnalis dari The Daily Mail. Disanalah ia mendapatkan lecutan dan hasutan yang membawanya menjadi seorang Jurnalis di kemudian hari.

“Kau ingin menjadi Jurnalis hebat? Pergilah ke tempat yang gila!” Tegas Seymour.
Maka, dimulailah usaha Jay untuk bisa pergi ke tempat yang gila. Somalia.


Seberapa gilanya Somalia? Bahkan tidak ada jurnalis dari pers manapun yang berniat untuk masuk ke Somalia. Keadaan carut marut akibat perang antar kelompok, warga sipil yang bebas memegang senjata menggambarkan keadaan yang super gila mengancam nyawa. Bajak laut Somalia menjadi subjek antagonis superior bagi media dan warga dunia.

Adegan Film The Pirates of Somalia ketika Jay berhasil melakukan wawancara dengan Garaard seorang prompak somalia

Film semi dokumenter ini berpusat pada Jay Bahadur yang nekat mendarat ke Somalia. Dengan pinjaman dari Orang Tuanya, ia berhasil mendapat restu dan tawaran bantuan dari sebuah stasiun radio Garowe Somalia. yang menawarkan bantuan penerjemah sekaligus asuransi keamanan selama Jay di Somalia. Film ini dilengkapi dengan adanya humor dan karakter orang-orang Somalia serta sisi gelap warganya yang banyak mencandu Daun Khat. Selama 6 bulan tinggal di Somalia, Jay berhasil mewawancarai Boyah pimpinan salah satu kelompok pembajak di kota Eyl. Ia juga berhasil mewawancari Garaard yang memimpin semua kelompok pembajak bersenjata di Somalia.


Adegan Film The Pirates of Somalia ketika Jay merasakan kebuntuan

Dalam film ini, melalui adegan wawancara Jay dengan Garaard, Somalia memberikan kabar bahwa mereka hanya mengambil apa yang seharusnya di dapatkan oleh mereka. Ikan-ikan mereka di pancing tanpa izin. Kapal-kapal kargo dan tanker melewati perairan Somalia tanpa melapor. Mereka akan terus ada selama pemancing illegal masih ada di perairan Somalia. 


Film ini sangat – sangat layak bagi siapapun terutama seseorang yang berniat menjerumuskan diri ke Dunia Jurnalistik. Namun, jika benar akan menjalankan cara seperti itu dibutuhkan pikiran yang jernih dan menimbang-nimbang juga, Agar tidak salah pilih tempat dan benar-benar tidak terkendali. Kenyataannya, selain tantangan menemukan narasumber, mencari sudut pandang yang pas untuk pemberitaan, dibutuhkan pula keuletan dan kesabaran. Karena jauh dari rumah dan berada di area konflik cukup menguras tenaga, materil dan pikiran bukan?