Sebetulnya artikel yang ini adalah tugas mata kuliah Penulisan di Kampus. Sebagai mahasiswa jurusan Komunikasi dan dalam rangka menjadi mahasiswa yang rajin maka saya pun belajar membuat artikel feature tentang makanan khas Serang. Bonusnya, karena dosennya adalah kepala biro di Media Online Satuarah.co artikel sayapun dimuat disana. Dibawah ini saya berikan jendela agar teman-teman bisa lebih mudah membaca versi terbitan satuarah.co. adapun versi aselinya, silahkan teman-teman datang ke halaman ini. 

Selamat Membaca..

 

 

Ini adalah ujicoba kedua saya mengirimkan artikel ke Mojok. En Ing Eng... dimuat juga. Senag kali cuy dua kali kirim dimuat jugak. Padahal gak satire dan gak Lucu. Mungkin editor Terminal Mojok lagi baik sama Tukang Ketik pemula macam saya. Saya jadi ngefans lho sama Mojok...!

Tentu saja ada beberapa poin yang beda. Selain kepentingan Media, Struktur bahasa dan kata yang gak efektif di cukur dari naskah aseli yang saya kirim. Dibawah ini adalah versi aseli yang saya ketik. Kalopun teman-teman ingin lihat versi yang dimuat di Terminal Mojok, Terbang aja >)))>> Lewat Sini <<(((< atau ke Portofolio saya juga bisa sih. Jadi, Selamat Bercukur...!

5 Gaya Komunikasi (Orang-Orang) Pandeglang

 ***

Lima Gaya Komunikasi Paling Dahsyat di Pandeglang

Komunikasi itu sangat penting. Saking pentingnya sudah jadi sebuah cabang keilmuan sejak ribuan tahun yang lalu. Termasuk di Pandeglang yang sedang diklaim beberapa sejarawan sebagai pemilik kerajaan pertama dan tertua yang lahir di Nusantara.

Di bawah panji Salaka Nagara, Pandeglang diklaim telah memiliki peradaban sejak abad ke 2 Masehi. Nyontek dari M. Abdul Karim yang kadung duluan mengetik, bahwa peradaban merupakan khazanah pengetahuan dan kecakapan teknis yang meningkat dari angkatan ke angkatan dan sanggup berlangsung terus-menerus. Produk peradaban Pandeglang yang saya maksud adalah gaya komunikasi.

Perlu teman-teman ketahui, ada lima gaya komunikasi di Pandeglang yang paling dahsyat, yaitu:

1.    Harewos Bojong

Saya sendiri lahir di area kode pos 42274 ini. Jadi saya cukup hafal soal perilaku Harewos Bojong. Istilah Harewos dalam basa Indonesia adalah Bisikan. Jadi, Harewos Bojong adalah Bisikan orang-orang Bojong. Harewos Bojong adalah interpretasi dari orang-orang Bojong yang suka berbisik. Kamu tahu kan berbisik? Semacam,

Cewek : “kamu tahu enggak, kubis apa yang bisa membuat aku bahagia?”

Cowok : “Kubis? apa ya? Enggak tahu. Emangnya apa?”

Cewek : “Kubisikan do’aku padaNya. Agar kau bisa menikah denganku”

Penulis : “Khowek”.

Nah itulah Harewos Bojong. Sejatinya, harewos adalah bisikan yang berarti jangan sampai terdengar oleh orang lain. Tetapi, nyatanya Harewos Bojong adalah bisikan yang disampaikan di depan pihak yang seharusnya tidak boleh mendengar. Artinya, sang pembisik (orang pertama) menyampaikan kepada temannya (orang kedua) didepan orang yang tidak boleh dengar (orang ketiga).

Parahnya, sedari awal orang pertama akan menyampaikan pesan dengan suara nyaring ditelinga orang kedua saat mereka sedang didepan orang ketiga. Tak lupa tangan orang pertama akan mengambil posisi di antara mulut dan telinga si orang kedua.

Akh, mungkin teman-teman akan paham jika mencobanya sendiri.

2.    Kowetan Sodong

Sodong adalah sebuah desa dan merupakan peristirahatan terakhir ulama besar dan pendiri Organisasi Massa Islam Mathla’ul Anwar. Kowetan terdiri dari satu kata kerja yang ditambah imbuhan ‘an’. Kowet hampir sepadan dengan noel atau mencolek dalam basa Indonesia. Kowetan Sodong berarti Kowet(colek)an Orang-orang Sodong. Kowetan Sodong adalah interpretasi orang-orang Sodong yang tidak suka ribut, ricuh atau ramai tentang suatu hal. Semisal,

Di suatu sore yang cerah tapi tanggal tuak, didepan kos-kosan kaum batangan di seberang Pom bensin berlatar Gunung Pulosari. 6 orang mahasiswa berkerumun nongkrong sambil ngopi dan sok serius membicarakan masalah negara. Lalu lewatlah para mahasiswi dengan celana kulot, blouse lengkap dan tak lupa kerudungnya yang berwarna sama dengan celananya. Tak ketinggalan tas gantung yang ukurannya bahkan tak cukup untuk satu binder.

Bak melihat oase di Padang Sahara, mahasiswa yang pertama kali melihatnya, akan melakukan kowetan pada teman disampingnya. Ia cukup menunjuk kearah mahasiswi yang berjalan dengan dagunya. Maka 4 orang gerombolan mahasiswa yang duduk disatu meja akan segera melirik, menengok atau berbalik badan kalau perlu.

Gaya komunikasi ini adalah gaya komunikasi tak berisik ala orang-orang Sodong. Cukup satu ‘kowetan’, satu petunjuk arah, sisa anggotanya akan paham maksud dari kowetan ini.   

3.    Tajongan Cikedal

Tajongan berasal dari kata Tajong yang berarti tendang, sepak. Cikedal adalah sebuah daerah pecahan Kecamatan Menes yang memiliki legenda buaya putih di Situ Cikedal. Tajongan Cikedal adalah gaya komunikasi dan merupakan interpretasi orang-orang Cikedal dalam menyampaikan pesan tetapi tidak ingin ada pihak lain tahu. Semisal, jika mahasiswa pada cerita sebelumnya adalah orang-orang Cikedal, maka mahasiswa yang melihat oase di Padang Sahara itu akan melakukan ‘tajongan’ atau menendang kaki orang tertentu saja. Maka, orang yang di’tajong’ akan segera mendelik kearah si penajong, dan memastikan apa pesannya. Maka dalam kasus ini, hanya mereka berdualah yang tahu ada mahasiswi yang kekinian dan tidak layak dikesampingkan sekalipun itu masalah negara.  

4.    Kiceupan Menes

Menes adalah sebuah kecamatan yang diambil dari nama seorang pedagang Portugis zaman Baheula bernama Don Jorge Menesess. Menes merupakan daerah yang ramai dan pusat perdagangan sejak dahulu.

Kiceupan berasal dari kata ‘kiceup’ atau kedipan yang ditambah imbuhan ‘an’. Kiceupan Menes berarti Kiceupan (kedipan) orang-orang Menes. Masih ingat presenter sebuah acara yang identik dengan mengedipkan satu matanya? Seperti itulah orang Menes. Mereka berkomunikasi bahkan tidak akan diketahui oleh pihak lain. Komunikasi ini hanya akan dipahami oleh mereka yang aseli orang Menes.

Jika cerita mahasiswa yang nongkrong disuatu sore sebelumnya adalah orang Menes, maka ia tak perlu tangan dan dagu sebagai simbol tanda. Cukup Kiceupan Menes! maka para mahasiswi akan datang menghampiri meja mereka.

5.    Singsatan Kananga

Kananga adalah nama sebuah desa dikaki gunung Pulosari. Perlu saya beritahu, jika MAW Brouwer berpendapat bahwa “Pasundan diciptakan ketika Tuhan tersenyum”, maka saya dapat katakan “Tuhan telah menurunkan Bidadari di Kananga. Hanya untuk orang Pandeglang”.

Ini bukan desas-desus yang sengaja saya bisikan ke telinga orang kedua agar kamu jadi curiga. Ini kenyataan dan jika cerita mahasiswa nongkrong diatas melibatkan orang Kananga, maka ceritanya akan jadi begini :

Sadar menjadi pusat perhatian, sekelompok mahasiswi itu menjadi salah tingkah dan berusaha mempercepat langkahnya. Secara reflek, salah satu mahasiswi menggerakkan kedua tangannya dan menarik sedikit celana kulotnya yang lebar. Wal hasil, dengan tidak sengaja terlihatlah setengah betis mahasiswi itu.

Itulah Singsatan. Singsatan berasal dari kata ‘Singsat’ atau Menyingsingkan. Maka, Singsatan Kananga adalah orang – orang Kananga yang melakukan Singsatan (menyingsingkan).

Jadi, begitulah ceritanya. Tak ada lagi masalah negara setelah Singsatan Kananga.

 

Tulisan dibawah ini, adalah artikel yang saya buat dan kemudian dikirim ke Media Online nan Satire Mojok. Tapi, via platform UGECE (User Generated Content ) Terminal Mojok. dan, dimuat pada tanggal 11 Oktober 2020. Tulisan dibawah ini adalah versi aseli pertama kali saya mengetik. Jadi jika anda ingin membandingkan dan membaca versi terbitan Mojok, bisa langsung ke Terminal Mojok atau melihatnya di Portofolio blog ini. Selamat Bercukur Ria....


 

 ***

Saya sebetulnya agak takut kalau harus menulis soal orang-orang Pandeglang. Apalagi kalau sampai foto penulis juga ikut dimuat. Itu berbahaya bagi jiwa penulis yang hidup di tanah bola api terbang’. Tapi itu dulu. Karena semakin modern Pandeglang, semakin hilang juga itu ‘bola api terbang’ dilangit Pandeglang.

Soal sejak kapan langit Pandeglang bersih dari bola api yang seliweran, saya sendiri tidak yakin. Terakhir saya melihat ‘bola api terbang’ melesat dari arah timur menuju barat laut. Itu 24 tahun yang lalu. Di malam yang sama ketika Bapak khusuk menonton dunia dalam berita yang mengabarkan kematian Ibu Negara.

Cerita tentang bola api yang bisa terbang, sesugguhnya tidak asing bagi para 3 generasi yang hidup di Kabupaten Pandeglang khususnya Pandeglang Selatan. Baik generasi Baby Boomers, Generasi X, ataupun generasi Milenial, kalaupun belum pernah melihat, mereka akan percaya penuh ketakjuban jika ada cerita bola api terbang melintas di kampung mereka.

Tetapi, begitu usia menginjak akil balig, setiap orang akan merubah penilaiannya tentang bola api terbang. Alih – alih tambah takjub dan mencobanya, kami akan segera menghapusnya dari isi kepala. Karena ternyata, bola api terbang bukanlah sesuatu yang baik walaupun elok dilihat. Bola api terbang adalah salah satu produk ilmu purbakala yang hanya bisa dimiliki sedikit orang saja.

Dalam sejarahnya, orang yang sedikit ini adalah bagian dari kelompok masyarakat yang hidup menyendiri karena saking tingginya ilmu yang dimilikinya. Orang-orang biasa akan segan bahkan takut sekalipun hanya untuk menyebut namanya. Saking sedikitnya orang yang memiliki kemampuan ini, apabila dihitung belum tentu dalam satu tingkat kecamatan apalagi desa terdapat orang jenis ini.

Selain itu, ada pula kelompok yang berisi orang-orang sakti mandraguna dan dekat dengan aktifitas persilatan. Mereka adalah kelompok kedua dengan identitas khusus yang hidup di Pandeglang bahkan jauh sebelum datangnya Islam. Sekalipun zaman berubah dan kekuasaan berganti, kelompok ini tetap ada dan akan muncul dan mudah dibedakan.

Kelompok lainnya yang ada di Pandeglang adalah kelompok Santri. Berdirinya Kesultanan Banten tahun 1526 dan hadirnya Syekh Asnawi dengan mendirikan Madrasah tahun 1884 di Caringin menuntun orang-orang Pandeglang menjadi kelompok terbesar yang hidup di daerah Pandeglang. Sehingga, wajarlah jika di kemudian hari kota Sejuta Santri dan Seribu Ulama begitu melekat dengan identitas Kota Pandeglang.

Sebagai sebuah administratif, Pandeglang menentukan tahun 1874 sebagai hari lahir Pandeglang. Artinya tahun ini Pandeglang telah berusia 146 tahun. Namun, sebagai sebuah peradaban sejatinya Pandeglang telah lahir dan tumbuh berkembang sejak abad ke 12 sampai 14. Artinya, sejak 900-700 tahun yang lalu, Pandeglang sudah memiliki peradaban maju dan berinteraksi dengan peradaban lain di luar sana.

Namun, besarnya angka usia Kota Pandeglang ternyata memang tidak ada sangkut pautnya dengan kemajuan. Toh orang-orang Pandeglang tidak terlalu ambil pusing dengan angka-angka.

Sebagai sebuah hikayat, membaca dan merenungi Pandeglang dan orang-orangnya hari ini amatlah unik. Seunik ekspresi Tan Malaka saat melihat debus. Minimal terdapat 2 keunikan yang paling utama dan merupakan faktor utama yang mencerminkan perilaku hidup orang-orang Pandeglang.

Pertama, orang Pandeglang sangatlah rasional. Perubahan lelaku orang Pandeglang dari dunia magis ke alam rasional tidak lain sejak datangnya Islam ke Tanah Banten. Islam telah mengajarkan kami menjauhkan diri dari perbuatan syirik sehingga jimat, dan ‘bola api terbang’,  ditempatkan pada ruang ghaib yang tabu, dan haram untuk dipercaya.

Jimat (azimat) adalah benda yang dianggap dapat membawa manfaat bagi orang yang membawanya. Sedangkan ‘bola api terbang’ adalah produk purbakala yang diterbangkan oleh orang sakti dari kelompok yang sedikit. ‘Bola api terbang’ adalah pesan yang melintasi langit hingga berkilo-kilo jauhnya dan mencari target penerima pesan bebas roaming. Karena 2 hal ini adalah dekat dengan dunia ghaib maka diharamkan ulama.

Kedua, orang Pandeglang sangatlah hangat dan bersahabat. Hal ini dapat kita lihat dari perilaku orang-orang Pandeglang yang senang bergaul, bersosialisasi dan bergerombol. Sifat dan sikap yang hangat ini tampak pada lelaku hidup orang-orang Pandeglang yang mudah berkenalan, bersosialisasi bahkan menyambut tamu yang baru dikenalnya sekalipun. Mereka akan menawarkan air minum, makanan, ataupun rokok yang tinggal 2 batang.

Wujud dari dua hal unik diatas, orang-orang Pandeglang menjalani hidup yang penuh kepercayaan diri, penuh gairah, dan hidup dalam kenyataan. Orang-orang Pandeglang mempercayai apa yang dilihat dan dirasakan langsung ketimbang katanya, menurut si A, sekalipun berdasarkan data. Maka tidak heran segala sesuatu di internet tidak akan berguna bagi orang-orang Pandeglang.

Selain itu, sajian nasi liwet, lalaban dan lauk pauk yang dibakar saat itu juga, tidak lupa sambal yang diolah dadakan menjadi wujud dari kehangatan dan bersahabatnya orang-orang Pandeglang. Sajian ini akan ditempatkan diatas daun pisang dan di kerumuni orang-orang. ‘Babacakan’ adalah arena mulia dan wujud keberhasilan orang-orang Pandeglang menarik turun bola api terbang dari dunia magis ke dunia nyata.

Nah, jika teman-teman ingin memastikan dan melihat dengan mata sendiri kedua ciri unik ini, 2 bulan kedepan adalah waktu yang terbaik. Kedua ciri unik ini akan tampak dimana-mana hingga diseluruh pojokan Kabupaten Pandeglang. Sebagai puncak hasrat peradaban manusia modern, Pilkada adalah momentum dimana semua jenis manusia akan menampakkan perilaku dirinya.

Sebagai bocoran dan jangan heran, bila besok kedua calon pasangan tampil seadanya. Visi-misi tak beda dengan contekan ulangan midsemester karena toh orang-orang Pandeglang cenderung tidak peduli. Jangan heran juga kalau petahana bisa jadi terpilih kembali, karena apa yang dilakukan periode kemarin adalah sejarah yang tak perlu diingat kurang-lebih pencapaiannya.

Untuk lima tahun ke depan? Orang-orang Pandeglang tak perlu rencana, ‘kumaha engke’. Karena yang direncanakan sering tidak jadi. Tidak terlaksana. Iya gak sih?

Maka diakhir kata, sesungguhnya bola-bola api tidak benar-benar hilang dari negeri para santri. Bola api tak perlu lagi diterbangkan karena segala sesuatu yang berada dilangit adalah ghaib, dan segala sesuatu yang bisa dinikmati bersama adalah mulia.

cuma ilustrasi yang saya copy dari ilmugeografi

 

Ini adalah karya pertama yang saya kirim ke Mojok. Sekalipun saya sudah mendengar dan mulai Sering Ngintip ke Media Satire ini sejak 2014, barulah tahun ini saya berani mengirimkan karya. Bagaimanapun, Mojok benar-benar telah menjadi Mercusuar baru bagi para penulis kritik genre satire. Akh, padahal gak satire dan gak lucu pulak tulisan saya ini. Makanya saya baru berani kirim ke Terminal Mojok. Belum Benar-benar masuk ke laptop Redaktur Mojok, tapi minimal saya parkir nama dahulu. Siapa tahu yea kann...?!

Nah, Saya juga mengupload naskah Aselinya di halaman lain, jadi silahkan kalau mau baca tulisan saya yang kacau balau. Iframe dibawah adalah setelah di sunting dan diterbitkan di Terminal Mojok. Jadi, selamat membaca. 




 

Ilustrasi saya copy dari harlispurwaningsih

Ini adalah salah satu tulisan saya tentang kebiasaan atau lelaku unik orang-orang yang tinggal di Pandeglang. Tulisan di muat di Mojok tanggal 20 November 2020. Tentu saja saya bangga, sekalipun ada beberapa baris yang hilang ditangan editor. Tetapi tidak memberangus makna dan tujuan saya dalam tulisan ini. Adapun jika teman-teman ingin membaca teks asli bisa dibaca di halaman yang sama. Nah, Judul diatas pun tidak sama dengan judul yang dimuat di Terminal Mojok, itu saya revisi ulang setelah belajar bagaimana cara memberi Judul sebuah artikel. 

Selamat Membaca

 


Penulis dan Sutradara : Wregas Bhanuteja
Produser                      : Nia Sari
Penata Sinematografi   : Leontius Tito
Penata Artistik              : Ferdi Perwiranata
Penata Musik               : Gardika Gigih
Penata Suara               : Firman Satyanegara
Editor                           : Mochamad Rizky Pratama
Pemain                         : Freddy Rotterdam Tatik Wardiono Den Baguse Ngarsa Agoes Kencrot Triyanto Hapsoro Titik Renggani

Jika kamu nanti benar-benar menonton film ini di YouTube, kamu akan menemukan informasi lain di deskripsi film ini. Dimana, cerita dalam film ini diangkat dari kisah nyata Wregas Bhatuneja yang tidak lain adalah penulis sekaligus sutradara film. Maka, tidak aneh jika film ini bisa menyampaikan detail adegan, properti dan suasana sepanjang alur film yang cukup detail.

Film ini dimulai ketika seorang ibu mengumpulkan 5 putra-putrinya untuk membagikan warisan peninggalan ayah mereka. Melalui pengundian, maka masing-masing satu anak berhak mendapatkan satu benda warisan yaitu lemari. Sesuai persyaratan ibunya, lemari warisan itupun harus langsung dibawa ke rumah masing-masing.

Setelah semua mendapatkan nomor undian, maka kita akan dibawa pada adegan dimana masing-masing orang mencari dan menemukan lemari yang telah diberi nomor. Disinilah kemudian kita akan mendapatkan gambaran karakter dari masing-masing anak si ibu. Ada yang selalu memegang Smartphonenya, ada yang menggunakan pakaian gaya klasik plus peci hitam, dan ada yang membawa kamera besar DSLR. Namun semuanya tampak akrab dan saling bercanda menampakkan betapa mereka rukun sebagai saudara.


Nah, cerita kemudian menukik pada tokoh Tri yang ternyata masih tinggal bersama ibu mereka di rumah itu. Dengan persyaratan yang diajukan ibu mereka, maka pertanyaan selanjutnya adalah kemanakah Tri membawa lemari warisannya?

Dipenghujung film, terdapat adegan yang cukup mengiris hati. Tetapi, setelah berfikir ulang, mungkin sebenarnya itu adalah pertanyaan yang diajukan film ini kepada penonton. Akan dibawa kemana warisan ibumu?
by on Kamis, Mei 07, 2020
Penulis dan Sutradara : Wregas Bhanuteja Produser                      : Nia Sari Penata Sinematografi   : Leontius Tito Penata Ar...


Produser  : Handoko Hendroyono, Anggia Kharisma
Sutradara : Angga Dwimas Sasongko
Skenario   : Jenny Yusuf
Penulis Naskah : Jenny Jusuf
Durasi : 117 menit
Tanggal rilis : 9 April 2015
Produksi : Visinema Pictures
Pemain :
Chico Jericho sebagai Ben
Rio Dewanto sebagai Jody
Julie Estelle sebagai El
Jajang C. Noer sebagai Bu Seno
Otiq Pakis sebagai Ayah Ben
Ronny P. Tjandra sebagai Pengusaha
Slamet R. Djarot sebagai Pak Seno

Mesin Expreso di KAfe Filosofi Kopi
Filosofi Kopi
Film ini membuka tirai panggung cerita dengan memperlihatkan 2 aktifitas paralel diseputar komoditas nusantara-biji kopi. Pertama aktifitas Jody yang menerima pesanan biji kopi dan Ben yang tengah sibuk meracik dan berdakwah soal kopi buatannya. Aktifitas lainnya adalah aktifitas petani yang memetik biji kopi, mengolah biji kopi secara tradisional dan meraciknya dengan cara sederhana.

Jody melihat Ben yang sedang meracik Kopi
Filosofi Kopi : Ben meracik kopi layaknya ilmuwan meracik bahan kimia

Opening film yang diiringi lagu Gede Robi dengan judul Kisah Secangkir Kopi ini sebetulnya merupakan kisi-kisi cerita. Dimana nantinya kedua cara meracik kopi akan saling berhadapan nanti. Ben yang notebene seorang barista penuh obsesi dan ambisi jika bicara soal kopi, akan berhadapan dengan Pak Seno seorang petani dan penjual kopi warung biasa di pedalaman.

Namun sebelum adegan itu datang, film hasil adaptasi cerpen karya Dee Lestari ini penuh makna terutama buat saya pribadi. Mengapa? Film Filosofi Kopi meracik persahabatan, cinta, perjuangan, masa lalu dan bisnis menjadi cerita siap saji. Jadi, menurut Luqman Wibowo untuk resensi film keren yang ini bisa teman-teman baca dan nontonlah film ini pelan - pelan! Karena sangat-sangat layak.

Persahabatan dalam cerita ini, ditunjukkan oleh dua tokoh utama dalam film ini. Ben (Chico Jericho) dan Jody (Rio Dewanto) yang telah tumbuh bersama jauh sebelum mereka dewasa. Itu karena Ben akhirnya diadopsi atau diurus oleh ayahnya Jody bagai anak sendiri. Sekalipun tumbuh bersama, keduanya memiliki watak dan karakter yang berbeda. Jika Ben tumbuh dengan rasa penasaran dan penuh obsesi tentang kopi, sementara Jody sebagai trah China membawa ciri dan karakter tajam soal bisnis dan rasa persahabatan disisi lain.

Melalui dua tokoh ini, setidaknya saya belajar 4 hal. Pertama, mereka membangun bisnis yang sebenarnya rentan bagi status persahabatan mereka. Apakah anda pernah mendengar pendapat liar bahwa "sebaiknya jangan bekerja atau berbisnis dengan sahabat dekat. Karena, bila bisnis gagal itu akan mengganggu persahabatan kalian." Nah, dalam film ini persahabatan mereka diuji.
Jody dan Ben selalu berkomitmen secara emosional untuk kafe Filosopi Kopi mereka
Filosofi Kopi : Jody dan Ben
Kedua, melalui tokoh Jody yang merupakan pebisnis, ia mengajarkan kita banyak hal soal negosiasi dalam berbisnis. Contohnya, ketika Jody mengajak Ben untuk segera kembali ke kedai agar kedai tetap buka pada jam makan siang. Ben dengan terang-terangan menolak dengan alasan itu merupakan jam istirahat. Ben membeberkan pengalamannya di Eropa bahwa kedai kopi tetap tutup di jam makan siang. Lalu Jody mengajukan fakta keadaan bisnis mereka dan memberikan opsi untuk memecat salah satu pegawai dengan alasan untuk menutupi biaya operasional mereka yang semakin mepet. Setelah bolak balik adu pendapat, akhirnya Ben menerima keputusan Jody agar kedai tetap buka pada jam makan siang.
Jody dan Ben bernegosiasi diatas motor
Filosofi Kopi Negosiasi jadwal buka diatas motor

Ketiga, melalui tokoh Ben kita melihat seorang tokoh anti kemapanan dan  pecinta tantangan. Dalam film ini Ben tanpa ngobrol dan kompromi dengan Jody, menaikkan angka taruhan dari penantangnya. Kejadian yang bermula dari tantangan seorang pengusaha kepada Ben untuk meracik kopi yang tiada duanya dan dianggap terbaik se-Ibu Kota. Jika berhasil, ia bisa memberikan uang sebesar 500 juta sebagai hadiahnya. Ben yang tertantang juga atas dorongan Jody yang sedang mentok hampir pailit karena hutang warisan ayahnya  akhirnya menerima tantangan pengusaha tersebut. Namun, tanpa disangka Jody, Ben dengan seenak hati menaikkan angka taruhannya menjadi 1 milyar. Jika Ben tidak berhasil, maka Ben dan Jody lah yang akan membayar uang sebesar 1 milyar kepada pengusaha itu.

Well, begitulah Ben. Ia adalah seorang anti kemapanan tetapi ambisius dan penuh hasrat jika berbicara kopi. Menanggapi ulah Ben secara sepihak, tentu saja Jody uring-uringan dan ngambek setengah mati kepada Ben. Harapan Jody mendorong Ben untuk menerima tantangan itu adalah demi menutupi utangnya. Sedangkan Ben untuk menunjukkan eksistensi dirinya bahwa dia adalah barista terbaik se Jakarta bahkan se-Indonesia.  Bagi Jody, Ben akan biasa saja dan tidak menderita kerugian apapun terutama uangnya jika kalah. Selain itu, jika mereka benar-benar kalah dalam taruhan, maka Jody akan rugi dua kali! Begitulah pikiran Jody.
Jody menonton Ben yang sedang meracik dan berusaha menemukan komposisi Bens Perfecto
Filosofi Kopi : Antusiasme Ben meracik kopi

Hal keempat, film Filosofi Kopi menyuguhkan egoisme dan arogansi yang mengekor dibalik orang-orang ambisius dan merasa menjadi yang terbaik. Hal ini ditunjukkan oleh Ben! Pasca deal soal nilai taruhan, Ben bagaikan seorang peneliti melakukan uji coba berbagai jenis kopi, cara mengolahnya, dan metode apapun untuk diracik. Hingga pada waktunya, ia berhasil menemukan racikan yang sesuai digambarkan si penantang.

Sejak menemukan komposisi yang diklaim ‘sempurna’ oleh para krew kedai Filosofi Kopi, Ben menjadi sumringah bahkan mendekati jumawa. Ben berada di atas angin dan berasa duduk di singgasana kerajaan kopi karena racikannya berhasil menarik banyak penggemar kopi. Hingga suatu waktu, datanglah El (Julie Estelle) seorang food bloger atau lebih tepatnya qu grader dan turut merasakan kopi racikan ‘sempurna’ dengan label ‘Ben’s Perfecto’. Lalu apa pendapatnya? Not Bad. Hanya not bad! Pukulan telak untuk Ben.
Jody, Ben, dan El menemui Barista Tradisional sang mpu Kopi TIwus
Filosofi Kopi : Ben ngotot ingin tahu proses meracik 'kopi Tiwus'

Dari 4 hal diatas yang diracik dalam cerita filsofi kopi sangat menarik dan nyatanya memicu pertumbuhan kedai – kedai kopi di Nusantara. Adapun sebagai karya adopsi dari cerita pendek dengan judul yang sama, tentu saja wajar jika terdapat penyesuaian yang lebih relevan. Semisal sang penantang tidak langsung serta merta mencari Ben melainkan memberikan traktiran pada semua pengunjung di suatu sore. Dalam cerita pendek karya Dee Lestari itu, sang penantang memprovokasi Ben melalui rasa kopi yang sesuai dengan setiap tagline atau Filosofi Kopi racikannya.

Ada pula tokoh pria penggemar kopi dan menganggap kopi adalah jamu yang hanya berkata ‘lumayan’ atas ‘Ben’s Perfecto’. Bisa jadi seorang pria paruh baya memang akan jadi biasa dan tak ada kesan mendalam bagi kita ketika menonton adegan ini. Sehingga dalam film, tokoh yang berbicara ini adalah seorang wanita dengan pangkat ‘qu garder’ dengan mengatakan ‘not bad’ untuk ‘Ben’s Perfecto’. Hasilnya? Silahkan teman-teman menontonnya lagi dengan seksama.

Selain itu jumlah uang yang dipertaruhkan juga berubah dari 50 juta dan naik menjadi 100 juta dalam cerita pendek. Sedangkan dalam filmnya berubah menjadi 500 juta pada taruhan pertama dan naik menjadi 1 milyar. Mengapa bisa naik? Karena relevansi nilai mata uang yang sudah beranjak naik. Nilai uang 50 juta dengan setting tahun 1996 akan sebanding dengan 500 juta untuk tahun 2014. Saking besarnya, saya sendiri menganggap angka itu tidak waras dan gila jika ada pertaruhan semacam itu hanya untuk racikan kopi.  

Melihat dua karakter tokoh dalam film ini sungguh membuat saya takjub. Keduanya benar-benar seperti hitam dan putih demi menjalankan roda nasib mereka. Begitu padu dan layak mendapatkan aplous. Adapun soal ekspresi Ben ketika bertemu pak Seno, banyak yang mengkritik terlalu berlebihan. Saya sendiri menangkap kecanggungan. Tetapi bukan karena Ben berlebihan menunjukkan sikapnya kepada Pak Seno, itu karena memang sulit. Disatu sisi obsesi Ben pada biji kopi, cara mengolahnya dan syarat makna dibungkus pengalaman pahitnya. Sementara disisi lain kopi racikannya dianggap lumayan dibanding ‘kopi Tiwus’ yang sekedar racikan tradisional karya Pak Seno.

Bagi yang belum nonton saya kira teman-teman tak perlu takut dianggap latah atau bahkan terlambat. Ini bukan saja soal falsafah hidup pada setiap racikan kopi, tetapi ini juga soal menangkap makna lain dari film ini sendiri. Entah itu motivasi bisnis, motivasi bertani atau menjadi rentenir sekalian. Yang jelas, benar kata Dee Lestari, “Hidup tak ada yang sempurna, hidup ini indah begini adanya”.